Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt <p><strong>Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo </strong>adalah sebuah jurnal peer-review yang didedikasikan untuk publikasi hasil penelitian yang berkualitas dalam bidang ilmu teknologi laboratorium medik seperti <strong>Kimia Klinik, Imunologi, Bakteriologi, Parasitologi, Toksikologi Klinik, Hematologi, Sitohistoteknologi</strong>, dan <strong>Biologi Molekuler</strong>. Semua publikasi di jurnal ini bersifat akses terbuka yang memungkinkan artikel tersedia secara bebas online tanpa berlangganan apapun</p> en-US jutelmo@itkeswhs.ac.id (La Ode Marsudi) jutelmo@itkeswhs.ac.id (Program Studi Teknologi Laboratorium Medik) Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 OJS 3.2.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Pengaruh Lama Hemodialisa Terhadap Hasil Urinalisa Metode Carik Celup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Praya http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1946 <p>Latar Belakang: Pasien gagal ginjal kronik biasanya melakukan terapi utama pengganti ginjal yaitu <br>hemodialisa yang dapat mempertahankan fungsi tubuh pasien. Dalam hemodialisa, carik celup (memiliki <br>spesifisitas tinggi 97–100) membantu memantau fungsi ginjal sisa untuk manajemen pasien, penyesuaian <br>terapi, dan untuk pemantauan fungsi ginjal yang sederhana, efisien, dan efektif. <br>Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh lama hemodialisa terhadap hasil urinalisa metode carik celup <br>pada pasien gagal ginjal di RSUD Praya. <br>Metode Penelitian: Observasional analitik dan desain penelitian cross-sectional. <br>Hasil Penelitian: Rerata lama hemodialisa pada pasien di RSUD Praya yaitu 6 bulan. Rerata hasil <br>pemeriksaan carik celup untuk lama hemodialisa ≤ 3 bulan, nilai positifitas parameter glukosa 0.78, leukosit <br>2.56, eritrosit 3.22, protein 3.22. Lama hemodialisa 4-6 bulan, nilai positifitas parameter glukosa 1.33, <br>leukosit 2.11, eritrosit 2.89, protein 2.78. Lama hemodialisa &gt; 6 bulan, nilai positifitas parameter glukosa <br>0.22, leukosit 1.44, eritrosit 2.22, protein 1.33. Uji statistik pada parameter protein (p = 0,001), eritrosit (p = <br>0,037), leukosit (p = 0,073) dan glukosa (p = 0,783). <br>Kesimpulan: Ada pengaruh lama hemodialisa terhadap hasil urinalisa metode carik celup parameter <br>protein dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Praya.</p> Diana Safitri R, Rohmi Rohmi, Agrijanti Agrijanti, Siti Zaetun Copyright (c) 2025 Diana Safitri R, Rohmi Rohmi, Agrijanti Agrijanti, Siti Zaetun https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1946 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Analisis Kepatuhan Proses Pemeriksaan Feses Lengkap Berdasarkan Standar Mutu Laboratorium http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2194 <p>Proses pencernaan makanan masuk kedalam tubuh akan dicerna menjadi sari-sari makanan yang diserap oleh usus, sedangkan sisanya yang tidak diserap oleh tubuh akan dikeluarkan dalam bentuk feses. Setiap individu memiliki pola buang air besar yang berbeda-beda, dimana pola buang air besar tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain asupan cairan, aktivitas, asupan serat dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Apabila konsumsi serat dalam makanan, konsumsi cairan, dan pemenuhan kebutuhan aktivitas tidak terpenuhi maka akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan Tujuan : Melakukan pemeriksaan dan analisis teoritis hasil pemeriksaan feses lengkap Laboratorium Patologi Klinik RSUD X. Tata laksana : Pelaksanaan tugas akhir ini dilakukan pada tanggal 15 Januari 2024 sampai dengan 23 Febuari 2024 di Laboratorium Patologi Klinik RSUD X. Metode : direct slide, sampel akan terwarnai dengan eosin 2% sehingga akan lebih jelas membedakan telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Hasil : Telah didapatkan hasil pengamatan pemeriksaan feses lengkap secara makroskopis dan mikroskopis sebanyak 30 sampel dengan hasil yang normal Kesimpulan : Pemeriksaan feses lengkap pada tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik, pemantapan mutu internal (PMI), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Good Laboratory Practice (GLP) telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).</p> <p> </p> <p> </p> Maya Tamara Mawardani, Rizki Higiansyah Copyright (c) 2025 Maya Tamara Mawardani, Rizki Higiansyah https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2194 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Evaluasi Kualitas Pemeriksaan Liquor Cerebrospinalis pada Tahap Pra-Analitik, Analitik, dan Pasca-Analitik di Laboratorium Patologi Klinik http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2197 <p>Background: <em>Cerebro Spinalis Fluid</em> (CSF) examination can help establish a diagnosis of diseases affecting the central nervous system, including meningitis, increased WBC count, polymorphonuclear ions, and mononuclear ions. Color and clarity examinations are interrelated, and can also detect increased protein in the fluid. Purpose : To determine and observe the techniques and steps of CSF examination. Procedure: Observations were conducted on January 6<sup>th</sup> – February 6<sup>th</sup>, 2025 at the Clinical Pathology Laboratory of Abdoel Wahab Sjahranie Regional Hospital, Samarinda. Methods: This type of research is quantitative and uses descriptive analytical methods. Results: This observation obtained 15 samples, the quality of examination at the pre-analytical, analytical, and post-analytical stages was generally good. All samples were accepted and processed according to procedure at the pre-analytical stage. At the analytical stage, protein testing showed 40% positive and 60% negative results with a predominance of mononuclear cells, and no discrepancies were found between parameters. At the post-analytical stage, recording and reporting of results were carried out accurately according to procedure. Conclusion: The CSF examination system in the laboratory has met the basic principles of quality control, but still requires regular evaluation and monitoring to maintain and improve service quality.</p> Rinda Aulia Utami, Muhammad Fahmi Aminuddin, Maya Tamara Mawardani, Devi Imelia, La Ode Marsudi Copyright (c) 2025 Rinda Aulia Utami, Muhammad Fahmi Aminuddin, Maya Tamara Mawardani, Devi Imelia, La Ode Marsudi https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2197 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 PENGARUH PAPARAN BENZENA TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN DARAH RUTIN PADA PETUGAS SPBU DI KOTA MATARAM http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1991 <p>Latar Belakang :Benzena merupakan senyawa kimia bersifat karsinogenik yang banyak ditemukan di lingkungan kerja seperti SPBU, terutama berasal dari uap bahan bakar jenis pertalite dan pertamax. Paparan benzena yang masuk ke tubuh melalui inhalasi dapat memengaruhi sistem hematopoetik, yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit, dan trombosit. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh paparan benzena terhadap hasil pemeriksaan darah rutin pada petugas SPBU di Kota Mataram. Metode Penelitian : menggunakan&nbsp; desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pemeriksaaan sampel dilakukan dengan menggunakan alat hematology analyzer. &nbsp;Hasil Penelitian: Rerata hasil pemeriksaan darah rutin pada petugas SPBU di Kota Mataram untuk masa kerja 6 bulan, kadar&nbsp; hemoglobin 14,57 g/dL, eritrosit 4,98 juta/μL, leukosit 8,07 10³/μL, dan trombosit 249,17 10³/μL. Masa&nbsp; kerja 1 tahun, kadar hemoglobin menjadi 13,09 g/dL, eritrosit menjadi 4,04 juta/μL dan leukosit menjadi 6,72 10³/μL dan&nbsp; trombosit 251,33 10³/μL. Masa kerja 1,5 tahun, kadar hemoglobin sebesar 13,28 g/dL, eritrosit 4,43 juta/μL dan leukosit 5,54 10³/μL dan&nbsp; trombosit&nbsp; 258,67 10³/μL. Uji statistik kadar hemoglobin (p = 0,028), jumlah leukosit (p = 0,039), jumlah eritrosit (p = 0,058) dan jumlah trombosit (p = 0,968). Kesimpulan : Paparan benzena berpengaruh terhadap kadar hemoglobin dan jumlah leukosit pada petugas SPBU dengan nilai p = 0,028 dan&nbsp; p = 0,039 (p &lt; 0,05), sedangkan&nbsp; &nbsp;jumlah eritrosit dan jumlah trombosit tidak berpengaruh terhadap paparan benzena pada petugas SPBU .</p> <p>Kunci : Paparan Benzena, Petugas SPBU, Darah Rutin</p> Ica Ovia Copyright (c) 2025 Ica ovia Epy https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1991 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Pengaruh Sebelum Dan Sesudah Scaling Gigi Terhadap Jumlah Entamoeba gingivalis Pada Penderita Periodontitis http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1988 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Periodontitis adalah peradangan pada gusi dan jaringan penyangga gigi. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan periodontitis adalah kebersihan mulut yang buruk dan keberadaan parasit seperti&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Entamoeba gingivalis</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> .&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Scaling</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;merupakan perawatan mekanis efektif untuk membersihkan plak, kalkulus, dan mikroorganisme dari permukaan gigi serta area bawah gusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">scaling</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;gigi terhadap jumlah&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Entamoeba gingivalis</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;pada penderita periodontitis sebelum dan sesudah perawatan. Metode yang digunakan adalah desain pra-eksperimental dengan model&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">One Group pretest-posttest</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> . Populasi adalah penderita periodontitis yang menjalani&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">scaling</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;gigi di wilayah kerja Puskesmas Labuapi dan Banyumulek. Sampel diambil dari usap area gigi dan gusi, kemudian dianalisis menggunakan pewarnaan Giemsa. Data diuji secara statistik dengan uji&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Wilcoxon</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> . Hasil menunjukkan dari 24 sampel, rata-rata jumlah&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Entamoeba gingivalis</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;sebelum&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">scaling</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;adalah 3,13, sedangkan setelah&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">scaling</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;menurun menjadi 0,46. Uji statistik menghasilkan nilai signifikansi (p value) 0,000, yang berarti ada pengaruh signifikan&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">scaling</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;terhadap pengurangan jumlah&nbsp; </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Entamoeba gingivalis</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> &nbsp;pada penderita periodontitis.</span></span></p> Syawaliyah Sulastri, Ari Khusuma, Nurul Inayati, Erna Kristinawati Copyright (c) 2025 Syawaliyah Sulastri, Ari Khusuma, Nurul Inayati, Erna Kristinawati https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1988 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Pengaruh Lama Konsumsi Obat Tenofovir Terhadap Kadar Hemoglobin dan Nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) Pada Penderita Hepatitis B http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1997 <p>Penggunaan Tenofovir jangka panjang pada penderita Hepatitis B dapat mempengaruhi hemoglobin dan nilai MCV. Efek samping obat tenofovir berpotensi mengganggu proses pembentukan sel darah merah melalui toksisitas, yang dapat menyebabkan anemia atau perubahan morfologi eritrosit. Oleh karena itu, pemantauan kadar hemoglobin dan MCV penting dilakukan untuk menilai dampak terapi jangka panjang terhadap kondisi hematologis penderita hepatitis B. Tujuan penelitiann untuk mengetahui pengaruh lama konsumsi obat tenofovir terhadap kadar hemoglobin dan nilai MCV <em>(Mean Corpuscular Volume)</em> pada penderita hepatitis B. Penelitian ini bersifat <em>observasional analitik</em> dengan pendekatan <em>Cross Sectional</em>, jumlah sampel sebanyak 24 penderita hepatitis B yang mengkonsumsi tenofovir dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan nilai MCV. Data yang dikumpulkan, kemudian dilakukan uji normalitas dengan uji <em>Shapiro Wilks </em>dan dilanjutkan dengan<em> One Way Annova.</em> Hasil penelitian mendapatkan rerata pada penderita Hepatitis B yang konsumsi tenofovir selama 3 bulan dengan kadar hemoglobin = 14,2 dan nilai MCV = 84,1. Penderita Hepatitis B yang konsumsi tenofovir selama 6 bulan didapatkan rerata kadar hemoglobin =12,2 dan nilai MCV = 89,0. Dan penderita Hepatitis B yang konsumsi tenofovir selama 12 bulan diperoleh rerata kadar hemoglobin = 9,8 dan nilai MCV = 76,3. Berdasarkan hasil uji <em>One Way Annova </em>&nbsp;didapatkan nilai (<em>p</em>: 0.003) dan (<em>p: </em>0.032) &lt; 0.05, yang disumpulkan ada pengaruh lama konsumsi obat Tenofovir terhadap kadar hemoglobin dan nilai MCV <em>(Mean Corpuscular Volume)</em> pada penderita hepatitis B.</p> putri utami, Erna Kristinawati, Nurul Inayati Copyright (c) 2025 putri utami, Erna Kristinawati, Nurul Inayati https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1997 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Pengaruh Pemberian Teh Hijau (Camellia Sinensis) Terhadap Kadar Asam Urat Pada Penderita Hiperurisemia http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2005 <p>Latar Belakang : Hiperurisemia adalah keadaan meningkatnya kadar asam urat dalam darah yang berpotensi menimbulkan komplikasi berupa gout artritis maupun gangguan kardiovaskular. Teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa bioaktif seperti epigallocatechin gallate (EGCG) dan flavonoid yang berpotensi mengurangi kadar asam urat dengan cara menghambat aktivitas enzim xanthine oxidase.</p> <p>Tujuan Penelitian : Menganalisis efek konsumsi teh hijau terhadap kadar asam urat pada individu dengan hiperurisemia.</p> <p>Metode Penelitian : Penelitian pre-exsperimental dengan cara one group pre-test post-test pada 30 responden hiperurisemia di Wilayah Kerja Puskesmas Gunungsari. Intervensi teh hijau dilakukan selama 14 hari, data dianalisis menggunakan uji statistik paired sample t-test.</p> <p>Hasil Penelitian: Rerata kadar asam urat sebelum pemberian teh hijau sebesar 8,00 mg/dL dan sesudah pemberian teh hijau sebesar 6,88 mg/dL. Berdasarkan uji statistik paired sample t-test didapatkan nilai signifikan 0,000 (p&lt;0,05).</p> <p>Kesimpulan : Terdapat pengaruh yang signifikan pada pemberian teh hijau terhadap kadar asam urat pada penderita hiperurisemia.</p> <p> </p> Lisda Ramadhania, Lalu Srigede, Thomas Tandi Manu, I Wayan Getas Copyright (c) 2025 Lisda Ramadhania, Lalu Srigede, Thomas Tandi Manu, I Wayan Getas https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2005 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Analisis Pengaruh Variasi Waktu Inkubasi Sampel Terhadap Tingkat Presisi Dan Akurasi Pada Quality Control (QC) Pemeriksaan Cholesterol http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2041 <p>Pemeriksaan cholesterol metode fotometri memerlukan waktu inkubasi&nbsp; yang konsisten untuk menjamin presisi dan akurasi hasil.Tujuan penelitian ini Mengetahui pengaruh variasi waktu inkubasi sampel terhadap Tingkat presisi dan akurasi pada <em>quality control</em> (QC) hasil pemeriksaan cholesterol menggunakan metode fotometri.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimental dimana populasi dan sampel penelitian ini adalah serum darah responden untuk pemeriksaan cholesterol. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur kadar cholesterol&nbsp; variasi waktu inkubasi yang di modifikasi menjadi empat perlakuan yaitu, satu variasi waktu inkubasi (5 menit),variasi waktu inkubasi (10 menit), variasi waktu inkubasi (15 menit) dan variasi waktu inkubasi (20 menit). Data dianalisis untuk presisi dan akurasi, serta diuji statistik menggunakan <em>One-Way ANOVA.</em>Hasil pemeriksaan didapatkan Variasi waktu inkubasi pada kelompok perlakuan (5 menit) menunjukkan KV 3,30% dan recovery 98,78% hasil presisi dan akurasi, kelompok perlakuan (10 menit) menunjukkan KV 2,87% dan recovery 99,86% hasil presisi dan akurasi, kelompok perlakuan (15 menit) menunjukkan KV 2,56% dan recovery 100,20% hasil presisi dan akurasi, dan kelompok perlakuan (20 menit) menunjukkan 2,92% dan recovery 101,36% hasil presisi dan akurasi. Analisis statistik dengan uji <em>One-way ANOVA</em> didapatkan hasil (p) .538 (P&gt; 0,05) yang menunjukkan tidak ada pengaruh pada <em>quality control</em> pemeriksaan cholesterol metode fotometri.Kesimpulan yang didapat Presisi dan Akurasi dari pengaruh waktu inkubasi (5 menit),(10 menit),(15 menit),(20 menit),adalah bagus.</p> Yunita Wardani, Urip Urip, Yunan Jiwintarum, Iswari Pauzi Copyright (c) 2025 Yunita Wardani, Urip Urip, Yunan Jiwintarum, Iswari Pauzi https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2041 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Gambaran SGPT dan SGOT Penderita Hepatitis A dan Hepatitis C di Rumah Sakit Dirgahayu Tahun 2023-2024 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2068 <p>Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus, salah satunya Hepatitis A dan C. Pemeriksaan enzim hati seperti SGPT (<em>Serum Glutamic Pyruvic Transaminase</em>) dan SGOT (<em>Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase</em>) berperan penting dalam mendeteksi adanya kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masing-masing gambaran kadar SGPT dan SGOT pada penderita Hepatitis A dan C di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada tahun 2023 hingga 2024.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap data sekunder dari tahun 2023-2024 sebanyak 7 penderita yang melakukan pemeriksaan SGOT dan SGPT. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan analisis data.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan SGPT dan SGOT lebih banyak terjadi pada laki-laki dengan rentang usia remaja hingga dewasa. Pada tahun 2023 ,Hepatitis A ada 1 penderita dengan jenis kelamin perempuan pada usia 25-54 tahun dan Hepatitis C ada 2 penderita laki-laki pada usia 15-24 tahun, pada tahun 2024, Hepatitis A ada 1 penderita dengan jenis kelamin laki-laki pada usia 55-80 tahun dan Hepatitis C ada 3 penderita dengan jenis kelamin laki-laki pada usia 25-54 tahun.</p> <p>Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan kadar SGPT dan SGOT yang meningkat secara signifikan pada penderita Hepatitis A dan C sehingga terjadi kerusakan sel-sel hati yang relevan secara klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan kedua enzim ini dapat dijadikan indikator penting dalam diagnosis, pemantauan, dan penanganan penderita Hepatitis secara lebih dini dan tepat.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Muhammad Syahrul Mubarak Djung, Supri Hartini, I Gede Andika Sukarya Copyright (c) 2025 Muhammad Syahrul Mubarak Djung, Supri Hartini, I Gede Andika Sukarya https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2068 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000 Analisis Korelasi Nilai Mean Corpuscular Hemoglobine (MCH) dengan Kadar Magnesium pada Pasien Tuberkulosis Fase Intensif http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2030 <p>Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> (MTB), dapat mengakibatkan gangguan pada sistemik termasuk gangguan hematologi dan metabolisme mineral. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien TB adalah anemia dan keseimbangan elektrolit, seperti penurunan kadar magnesium. <em>Mean Corpuscular Hemoglobine </em>(MCH) merupakan parameter hematologi yang mencerminkan rata-rata jumlah hemoglobin dalam satu sel darah merah dan dapat menurun pada kondisi anemia. Magnesium memiliki peran penting dalam sintesis protein dan fungsi enzimatik yang mempengaruhi produksi hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara nilai MCH dengan kadar magnesium pada pasein TB. Desain penelitian ini menggunakan adalah <em>cross-sectional. </em>Sampel penelitian terdiri dari 59 pasien TB. Hasil analisis menggunakan uji <em>Spearman </em>menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan antara nilai MCH dan kadar magnesium dengan nilai p = 0,01 dan kofisien korelasi r = 0,55, yang berarti berbanding lurus, semakin turun nilai MCH maka semakin turun juga kadar magnesium begitupun sebaliknya. Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai kemungkinan keterkaitan antara parameter hematologi dengan status elektrolit.</p> Gladys Theodora Pricillia Sinurya, Sabarina Elfrida Manik, Dian Rachman Wijayanti Copyright (c) 2025 Gladys Theodora Pricillia Sinurya, Sabarina Elfrida Manik, Dian Rachman Wijayanti https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/2030 Sun, 30 Nov 2025 00:00:00 +0000